Sunday, December 6, 2009

Moon Shadow

Kupandangi semesta
Mataku mencari sosok yang serupa denganku
Mencari jati diriku

Sosok pertama yang terlihat tentulah sang surya
Pesonanya yang menawan
Gemerlap cahaya dan kehangatannya
Keceriaan yang terpancar
Membuatnya menjadi sorotan setiap mata

Suryakah kah aku?
Batinku mengelak
Aku tak semenarik itu
Tak banyak mata yang tertarik mencariku

Kucari sosok lain di jagat raya
Tampak olehku rangkaian bintang di angkasa
Menghiasi langit malam dengan kerlipnya
Apakah aku salah satu dari gugusan itu?
Phoenix sang burung apikah? Cygnus? Perseus? Atau Pegasus?
Lagi-lagi batinku menyangkal
Aku tak memiliki kerlip seindah itu

Mataku terus mencari
Kali ini ke sosok yang lebih dekat
Mungkinkah aku salah satu planet penghias tata surya?
Jupiterkah? Saturnus nan menawan? Ataukah Venus?
Bukan juga

Aku mulai jenuh
Tak ada yang cocok denganku
Siapakah aku ini?

Kulayangkan pandangan terakhirku
Kali ini jatuh pada sosok yang sangat dekat
Dia tak semenarik sosok-sosok yang sebelumnya
Parasnya tak rupawan
Perawakannya tak seperkasa sosok sosok lainnya

Siang hari tenggelam oleh kemilau sang surya
Malam hari kadang terlihat, kadang tidak
Tak seperti gugus bintang yang selalu berkilau dengan konsisten
Tak ada kekuatan padanya
Tak ada kemegahan
Tak ada kemewahan
Keheningan adalah bagian hidupnya
Kekelaman adalah sahabatnya

Batinku tersentak
Siapakah sosok ini?
Begitu mirip denganku

Kupandangi dirinya dengan seksama
Kutelusuri lekuk wajahnya
Hei...
Dia memiliki dua wajah
Yang pertama selalu memandang sang surya dengan penuh kekaguman
Yang kedua selalu memandang… ke arahku?

Ya...
Dialah sang rembulan
Candra kirana
Sosok misterius penghias langit malam

Tak ada cahaya padanya
Yang dilakukannya hanyalah memantulkan cahaya sang surya yang dikaguminya
Untuk dibagikan kepada dunia yang kelam
Terkadang cahaya itu terang
Terkadang redup
Bergantung pada kemurahan sang empunya cahaya

Tak banyak yang menyadari keberadaannya
Terlebih di tengah hingar-bingar gemerlap dunia
Sosoknya tak pernah diperhitungkan di tengah keramaian
Hanya keheningan yang bisa menemukannya

Keheningan
Dan kerinduan akan secercah cahaya
Cahaya pengharapan
Cahaya kehidupan
Cahaya abadi
Cahaya Sang Pencipta semesta raya

Keberadaannya nyata hanya oleh Dia
Dirinya diciptakan hanya untuk mengagumi pesona-Nya
Bersyukur kepada-Nya
Dan membagikan cahaya-Nya bagi mereka yang mencari-Nya
Demi menyenangkan dan memuliakanNya
Hanya dengan cara ini dirinya dapat bertahan hidup
Hingga waktu yang ditentukan-Nya

Akulah sang rembulan
The moon
Tsuki
Yue

@Yue, WishingCandle, 2009

*moon shadow - tsukikage

Read more ...

MOU: Re-Commitment

Lama tidak meng-update blog, membuat saya sedikit bingung untuk memulai tulisan ini. Rasanya saya punya banyak sekali hutang cerita. Hmm kita mulai dari yang MOU saja ya. Sebagaimana yang telah saya ceritakan sebelumnya, ide MOU tercetus begitu saja pada saat chatting dengan seorang sahabat tanpa saya pertimbangkan masak-masak. Saat itu yang terpikir hanyalah bagaimana caranya supaya saya tidak tertidur di sembarang tempat dan waktu. Akibatnya seperti yang sudah bisa diduga, bagi seorang cyberholic seperti saya, MOU semacam ini adalah super duper sulit untuk dilaksanakan.

Hari pertama pelaksanaan MOU, saya sudah melakukan pelanggaran sesi malam dengan molor selama satu jam. Hari kedua, saya menambah pelanggaran dengan mencuri-curi kesempatan membuka Facebook di jam kerja. Hari-hari selanjutnya, jangan ditanya lagi. Tiada hari tanpa pelanggaran. Duh, kalau sudah begini, terasa sekali bahwa saya adalah seorang yang tidak setia pada komitmen. Beberapa sahabat maya yang menjatuhkan sanksi pun saya abaikan. Terkadang bahkan saya pun bernegosiasi dengan nada memelas agar diizinkan online lebih lama.

Hingga pada suatu ketika, saya “hampir” kena batunya. Saya tertidur dengan manisnya di meja kerja pada saat sedang online dengan ponsel dalam genggaman tangan. Awalnya sih lancar-lancar saja. Lama-kelamaan ponsel terlepas dari genggaman dan terjatuh di meja dengan menimbulkan bunyi gaduh sehingga mengundang semua mata menoleh ke arah saya. Untungnya saya sempat berakting sok sibuk membereskan dokumen di meja dengan wajah tak berdosa dan sukses mengelabui semua mata yang memandang ke arah saya.

Berikutnya, kejadian serupa terulang kembali. Kali ini bukan ponsel yang jatuh, tapi… saya sendiri, sodara-sodara!! Bukan benar-benar jatuh sih. Hanya saja tubuh bagian atas saya menukik tajam ke arah meja. Untungnya tangan saya yang terlebih dahulu mendarat di meja dan kembali menimbulkan bunyi gaduh yang mengundang semua mata menoleh ke arah saya. Yang ini cukup membuat saya panik deg deg plus lantaran saat itu wajah saya hanya berjarak beberapa inci dari monitor. Memalukan sekali kalau wajah saya sampai membentur monitor. Apa kata dunia?? Tapi saya tetap sukses tidak ketahuan kok, hehehe.

Berbekal dua pengalaman di atas, akhirnya saya putuskan untuk bersungguh-sungguh menjalani MOU. Memang belum sukses 100% sih. Setidaknya, saya lebih berdisplin mematuhi komitmen ini. Sesi online malam saya akhiri tidak jauh dari kisaran jam 11. Kadang sebelum jam 11 pun saya sudah off. Sesi online pagi dan siang sedapat mungkin di luar jam kerja (jam 8 – 12 dan jam 13 – 17). Walaupun curi-curi kesempatan 5-10 menit selama jam kerja masih berjalan, tapi saya tetap berjuang keras untuk menahan diri. Hasilnya?? Kecenderungan sleepaholic saya berkurang drastis. Kemungkinan mengantuk di meja kerja maupun di jalan mendekati nol. Nampaknya MOU ini merupakan terapi yang sangat manjur bagi saya. (Special thanks untuk sahabat pencetus MOU!)

Oh ya, ada satu hal yang ingin saya sharing-kan. Selama menjalankan MOU, saya merasakan penyertaan dan dukungan Tuhan yang sangat nyata. Ambil contoh, sesi malam. Kadang ketika saya tak menunjukkan gelagat untuk segera off sekitar jam 11 malam lantaran masih terlibat chatting seru dengan sahabat maya, Tuhan membuat saya tertidur di tengah chat tersebut hingga pagi, meninggalkan sahabat saya begitu saja. Contoh lain, ketika saya berniat "curi-curi online" di jam kerja, Tuhan membuat saya tidak bisa terkoneksi ke ruang chat; entah karena koneksi buruk ataupun pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Singkatnya, dengan perangai saya yang tidak setia dan cenderung membangkang ini, Tuhan tidak membiarkan saya terjatuh dalam kegagalan tak berujung. Dia tahu bahwa saya lemah. Dan Dia juga tahu bahwa tidak cukup hanya dengan mengirimkan sahabat-sahabat maya untuk menegur saya. Hingga akhirnya Dia memutuskan turun tangan sendiri untuk mendisiplinkan saya dengan cara-Nya yang ajaib.

Semoga di hari-hari mendatang saya boleh semakin berdisiplin, mampu mengendalikan diri, menghargai dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk berkarya dengan efektif dan efisien, hanya bagi kemuliaan-Nya.

@Yue, WishingCandle, 2009

PS: Bagi yang pernah saya tinggal tidur pada saat chat, mohon maaf sebesar-besarnya ya.. :)
Read more ...

Saturday, November 21, 2009

To My Beloved Sister

Who's to say for certain maybe you're still here
I feel you all around me your memory's so clear

Deep in the stillness I can hear you speak
You're still an inspiration
Can it be (?)
That you are my forever love
And you are watching over me from up above

Fly me up to where you are beyond the distant star
I wish upon tonight to see you smile
If only for awhile to know you're there
A breath away's not far
To where you are

Are you gently sleeping here inside my dream
And isn't faith believing all power can't be seen

As my heart holds you just one beat away
I cherish all you gave me everyday
'Cause you are my forever love
Watching me from up above

And I believe that angels breathe
And that love will live on and never leave...

To Where You Are - Josh Groban



Adikku...
Lagu ini selalu mengingatkanku padamu
Salah satu lagu favoritmu yang kerap kau lantunkan menjelang kepergianmu

Tak terasa
Seribu hari sudah berlalu
Rindukah dirimu padaku?
Ataukah hanya aku yang merindukanmu?

Adikku...
Saat-saat menjelang kepergianmu
Ponselmu yang biasa dipenuhi dengan foto-foto narsismu
dan lagu-lagu favoritmu
Telah kau kosongkan
Demikian pula almari pakaianmu
Segenap isinya kau keluarkan
Berbagai passwordmu pun kau titipkan padaku

Saat itu...
Tahukah kamu bahwa waktumu akan segera tiba?
Bagaimana perasaanmu saat itu?
Yang kulihat hanya dirimu yang gelisah
Emosi yang tak stabil
Kita jadi sering berselisih

Adikku...
Saat itu pastilah sangat sulit
Maafkan aku yang tidak menjadi kakak yang baik
Aku begitu egois
Mengacuhkanmu
Membiarkanmu seorang diri
Dalam pergumulanmu
Menghadapi kematian

Adikku...
Aku menyesal
Tak ada lagi yang bisa kuperbuat
Selain meneruskan perjuanganmu di dunia ini
Melakukan yang terbaik
dengan segenap hati dan jiwaku
bagi keluarga kita
dan teritimewa
bagi Dia yang bertahta di hati kita

Adikku...
Betapa beruntungnya dirimu
Di usia yang teramat muda
Saat studi dan karyamu tengah gilang-gemilang
Dia memanggilmu untuk kembali ke sisiNya
Aku sungguh bangga padamu
Atas apa yang telah kau perbuat di dunia ini

Adikku...
Saat ini tentunya dirimu sudah berada bersamaNya
Menikmati keindahan dan keelokkanNya
Memuji dan menyembahNya tiada henti

Impianmu dalam dunia paduan suara
Kini telah dikabulkanNya
Dia telah menerimamu dalam paduan suaraNya yang tak tertandingi
Paduan suara surgawi
Bersama segenap laskar malaikat
Mempersembahkan pujian terindah bagiNya
Sampai selama-lamanya

Adikku...
Berbahagialah dalam damai Tuhan

Requiem aeternam donna eis Domine; et lux perpetua luceat eis.
-1000th Day in Everloving Memory of My Beloved Sister-


@Yue, WishingCandle, 2009
Read more ...